Intensitas atau volume suara melebihi batas aman bisa mengakibatkan seseorang kehilangan pendengarannya. Berapa batas aman intensitas suara yang boleh didengar manusia?

Tahukah Anda bahwa tidak semua suara bisa didengarkan oleh telinga manusia? Ya, suara atau bunyi yang dapat didengar manusia itu terbatas. Kebiasaan mendengarkan suara yang memiliki volume keras merupakan salah satu kebiasaan yang bisa merusak telinga Anda.

Tingkat kebisingan dan lama waktu mendengarkan suara keras bisa mengakibatkan gangguan pendengaran sementara bahkan permanen. Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Mendengarkan suara keras dalam waktu singkat, seperti ledakan bisa mengakibatkan pendengaran rusak. Kondisi ini juga bisa terjadi karena terbiasa mendengarkan suara keras terus-menerus dalam jangka waktu yang lama.

Paparan suara keras terus-menerus dalam jangka waktu yang lama seperti bekerja di area mesin, mendengarkan musik dengan volume tinggi melalui earphone, menghadiri kelab malam/karaoke, hingga konser musik juga berpotensi mengakibatkan gangguan pendengaran secara permanen dan tidak bisa diperbaiki lagi.

Berdasarkan riset Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, lebih dari 1,1 miliar remaja dan anak muda seluruh dunia berisiko terkena gangguan kehilangan pendengaran. Penyebabnya adalah penggunaan perangkat audio dengan volume yang tak aman/terlalu keras. Padahal hilang pendengaran sifatnya permanen.

Data WHO juga menunjukkan bahwa gangguan kehilangan pendengaran mengandung konsekuensi di kemudian hari, antara lain mengancam kesehatan fisik dan mental hingga merugikan pendidikan dan pekerjaan si penderita.

Rata-rata, seseorang yang sudah pernah mendengarkan suara-suara keras, mengalami perubahan emosi, seperti mudah marah atau tersinggung, mudah mengalami stres, susah tidur sampai tiba-tiba memiliki gangguan kardiovaskular sampai gangguan pencernaan dan pernapasan.

Baca juga artikel ini:

Berapa Batas Aman Suara yang Bisa Diterima Telinga Manusia?

Intensitas, durasi, dan frekuensi paparan, ketiga faktor ini sangat menentukan tingkat risiko seseorang terkena gangguan pendengaran akibat bising.

Telinga manusia mampu mendeteksi berbagai intensitas suara (tingkat kenyaringan) dari yang sangat lembut hingga sangat keras. Satuan ukuran yang digunakan untuk menyatakan intensitas suara adalah desibel (dB). Semakin tinggi kebisingan suara, maka akan semakin tinggi ukuran desibel (dB). Suara yang memiliki desibel tinggi memiliki kemungkinan mengakibatkan kerusakan pada telinga.

Berikut perbandingan level intensitas suara menurut WHO:

  • Detak jam 20 dB
  • Mesin lemari es 40 dB
  • Percakapan normal 60 dB
  • Suara AC 65 dB
  • Vacuum cleaner 75 dB
  • Kebisingan lalu lintas kota 85 dB
  • Mesin pemotong rumput 90 dB
  • Sepeda motor (rata-rata) 95 dB
  • Pengering rambut, kereta bawah tanah, klakson mobil (bunyi di ketinggian 5 meter) 100 dB
  • Mendengarkan musik melalui earphone pada volume maksimal, gergaji mesin 105 dB
  • Kelab malam, bar 104-112 dB
  • Konser pop, musik 100 dB
  • Konser rock atau sirene 115 dB
  • Suara petasan dan letusan senjata api 150 dB

Bahkan paparan singkat dengan tingkat dB yang tinggi, seperti suara ledakan bisa jauh lebih berbahaya. Cukup satu kali mendengar dari jarak dekat sudah mampu mengakibatkan seseorang terkena gangguan kehilangan pendengaran.

Lalu, berapa dB batas aman suara yang bisa diterima telinga manusia dan tak berisiko menimbulkan gangguan pendengaran? National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dan Occupational Safety and Health Association (OSHA) menerapkan batas aman paparan suara atau kebisingan di level 85 dB dalam jangka waktu 8 jam per hari.

Batas aman tersebut juga diambil sebagai standar WHO dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No.5 Tahun 2018 tentang Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan kerja. Berikut Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan:

*Lamanya waktu yang diizinkan untuk mendengarkan dengan aman semakin berkurang seiring dengan peningkatan level suara.

Penting untuk memahami jarak Anda berada dari sumber suara dan lamanya waktu mendengar suara tersebut. Hal ini berpengaruh terhadap kesehatan pendengaran.

 Tindakan Pencegahan Apa yang Dapat Dilakukan?

Memahami intensitas suara mana yang berpotensi mengakibatkan kerusakan pada sistem pendengaran adalah langkah awal untuk menentukan tindakan pencegahan. Menghindari suara keras merupakan salah satu cara termudah untuk mencegah gangguan pendengaran. Namun, pada situasi tertentu hal ini tidak selalu dapat dilakukan.

Maka, tindakan pencegahan lain perlu diterapkan agar pendengaran Anda tetap aman, antara lain:

  1. Menjaga volume suara tetap rendah. Level volume aman yang direkomendasikan adalah di bawah 85 dB. Volume suara bisa jadi terlalu keras, jika:
  • Orang lain harus meninggikan suaranya agar komunikasi mereka dapat dimengerti
  • Sulit memahami komunikasi seseorang dari jarak jauh
  • Pendengar mengalami rasa sakit atau sensasi telinga berdenging di telinga.

Bahkan pengurangan kecil pada volume dapat memberikan perlindungan telinga yang signifikan.

  1. Menggunakan penutup telinga

Gunakan penutup telinga saat pergi ke konser musik (terutama rock atau metal), kelab malam, atau tempat di mana terdapat suara musik dengan intensitas tinggi. Anda harus bersiap saat kondisi memaksa Anda berada tepat di depan pengeras suara.

Namun, jika terlanjur tidak membawa penutup telinga dan suara di sekitar bising, Anda disarankan untuk tidak terus-menerus berada di tempat tersebut. Beristirahatlah sekitar 10 menit di tempat sunyi sebelum kembali lagi ke area bising.

  1. Membatasi volume suara tidak lebih dari 60%

Bagi Anda yang sudah kecanduan memakai earphone/headphone saat mendengarkan musik atau menonton film, kurangi mengurangi volume suara berangsur-angsur.

Usahakan untuk tak berada di tempat yang bising dan membuat Anda terpaksa menaikkan volume. NHS mencanangkan rumus 60:60 yakni batas maksimal volume berada di level 60 persen dan jangan mendengarkan musik secara terus-menerus selama lebih dari 60 menit.

  1. Memantau paparan kebisingan

Teknologi pada smartphone Anda dapat digunakan untuk mengukur tingkat paparan kebisingan dan menginformasikan kepada pengguna tentang risiko gangguan pendengaran akibat bising.

Aplikasi ini biasanya menampilkan intensitas kebisingan dalam dB dan dapat memberi tahu pengguna apakah tingkat paparan berpotensi meningkatkan risiko gangguan pendengaran.

Namun perlu dicatat, aplikasi untuk mengukur tingkat kebisingan pada smartphone ini terkadang tidak sepenuhnya akurat dan hanya bertindak sebagai pelengkap saja. Anda tetap harus hati-hati dan memahami intensitas suara serta lama waktu pemaparan di tempat Anda berada.

  1. Hindari suara bising

Jika Anda harus meninggikan suara untuk mengobrol di suatu tempat, berarti suara tersebut cukup keras untuk merusak pendengaran Anda. Pindah ke lokasi yang lebih tenang untuk mengurangi paparan.

Namun, jika Anda tidak bisa menghindari bisingnya suara, batasi waktu Anda di area tersebut. Pendengaran Anda akan hilang seiring dengan kerasnya suara dan berapa lama Anda mendengarnya.

  1. Lakukan pemeriksaan pendengaran secara teratur

Ini membantu untuk mengidentifikasi gejala awal gangguan pendengaran sejak dini. Segera lakukan tes pendengaran jika Anda:

  • Memiliki anggota keluarga yang kehilangan pendengaran
  • Memiliki masalah mendengarkan pembicaraan
  • Merasa seperti berada di tempat bising meskipun saat sedang di tempat normal
  • Sering terdengar suara berdenging di telinga Anda.

Karena gangguan pendengaran akibat bising tidak dapat disembuhkan, melakukan tindakan pencegahan adalah upaya yang paling efektif. Jika Anda mengalami sensasi telinga berdenging atau kehilangan pendengaran sudah terlihat jelas, sebaiknya Anda waspada dan sebisa mungkin hindari atau batasi paparan suara keras.

Jangan sepelekan suara-suara bising yang ada di sekitar Anda. Tidak hanya mengganggu, suara bising juga bisa berbahaya bagi kesehatan pendengaran. Bila Anda merasa mengalami gejala gangguan pendengaran, segera periksakan diri ke dokter THT.

Menyayangi telinga adalah usaha menikmati suara-suara indah di dunia hingga usia tua.

Salam safety!

×